
Berkhalwat di Tengah Keramaian
Oleh : Sahran
Sudah satu bulan, sebelas hari Batara Guru berselingkuh dengan sunyi dan eksotis matahari senja. Kesunyian dan sapuan jingga di kanvas langit sore adalah dua berkah alam yang sangat disukainya. Batara Guru meyakini bahwa kesunyian adalah salah satu medium efektif untuk menggagas “perlawanan konstruktif” pada beragam realitas kelabu yang selalu terpentaskan dalam interaksi sosial kemasyarakatan. Sedangkan fenomena matahari senja, menurut Batara Guru, merupakan simbol kebebasan personal untuk memproduksi improvisasi berpikir yang tidak lazim. Atas dasar asumsi itu, ia memilih meliarkan syahwat kebebasan berpikirnya dengan berkhalwat.
Pada spektrum agama, berkhalwat berarti mengasingkan diri ke tempat yang sunyi untuk bertafakur. Sekilas, berkhalwat tampak seperti perbuatan yang sia-sia, buang-buang waktu dan pasif. Tetapi, betulkah itu? Betulkah Nabi Muhammad –yang mengawali perjuangannya dengan berkhalwat– dapat dikategorikan manusia sia-sia dan pasif? Betulkah, Hasan Al Banna –Pendiri Ikhwanul Muslim– yang separuh dari hidupnya digunakan bertafakur di penjara Mesir itu dikatakan manusia sia-sia? Buang-buang waktukah Imam Ayatullah Rohullah Khoemeni berjuang dalam kesunyian kemudian berhasil membangun imperium Republik Islam
Batara Guru memandang langit dengan tatapan nanar. Substansi perjuangan Muhammad, Hasan Al Banna, Imam Ayatullah Rohullah Khoemeni dan Subcomandante Marcos bergiliran merasuki benaknya. Terkadang ia terobsesi ingin seperti Muhammad yang melawan ketimpangan realitas jahiliah dengan dimensi kelembutan dan ketegasan. Kerapkali, ia malah ingin seperti Hasan Al Banna yang langsung mengutuk kejahilan rezim tanpa perlu takut pada kengerian dinginnya penjara. Kadangkala pula, ia ingin sekali seperti Sang Imam Khoemeni yang berjuang dengan landasan doktrin ”Keras Kepala”. Atau setidaknya, Batara Guru memilih alternatif paling irit: menjadi Subcomandante Marcos yang melakukan perlawanan dan pencerahan dengan kata-kata saja.
Sudah satu bulan, sebelas hari Batara Guru merangkul sunyi. Ia kemudian memutuskan turun gunung untuk mengubah berbagai ”cacat permanen” yang menggerogoti tubuh negerinya. Idealismenya berkobar membara membakar ilalang yang dilaluinya. Ambisinya menghentak: ia ingin meneriakkan kata-kata pemberontakan pada ketidakadilan, ketidaksederhanaan, kebobrokan, kepongahan, keculasan, keserakahan, para penguasa yang menggadaikan dan memperbudak kepolosan rakyatnya. ”Kata adalah senjata”, pikirnya. Tetapi, Batara Guru kaget bukan kepalang. Ketika, ia menginjakkan kaki di bumi realitas dan siap berteriak lantang, ternyata separuh manusia ditemuinya sudah ’tak bertelinga’ lagi.
Tinggalah Batara Guru berkhalwat seorang diri di tengah keramaian.
Siapa peduli?
penulis adalah pemerhati pendidikan, sastrawan dan mengajar di smp sebelas parepare)